Kaltim, dettiknews.com Tenggarong Momen peresmian proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) milik PT Pertamina di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1), berubah menjadi sorotan tajam publik. Acara yang seharusnya menjadi simbol kemajuan industri energi nasional justru menyisakan luka mendalam bagi masyarakat adat Kutai, khususnya warga Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Dalam acara yang dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, jajaran Kabinet Merah Putih, serta unsur Pemerintah Daerah Kalimantan Timur, terjadi insiden yang dinilai mencederai adab dan kehormatan adat. Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Haji Aji Muhammad Arifin, yang hadir sebagai tamu kehormatan, terlihat duduk di barisan ketiga, di belakang pejabat negara dan kepala daerah.
Padahal secara adat dan etika lokal, Sultan Kutai merupakan simbol budaya dan pemangku kehormatan tertinggi di tanah Kutai.
Situasi tersebut bahkan membuat Presiden Prabowo tampak terkejut saat Sultan berdiri memberikan salam hormat ketika namanya disebut dalam daftar tamu undangan.
“Turut hadir Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Aji Muhammad Arifin,” ucap pembawa acara.
Melihat posisi duduk Sultan berada di barisan belakang, Presiden Prabowo langsung memberikan teguran terbuka kepada panitia.
“Sultan kok ditaruh di belakang? Taruh di depan,” ujar Presiden dengan nada mempertanyakan, disertai instruksi tegas kepada staf acara.
Insiden ini sontak memicu reaksi keras dari masyarakat adat Kutai. Ketua Umum Perkumpulan Adat Kutai Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Remaong Kutai Berjaya (RKB), Hebby Nurlan Arafat, mengecam kejadian tersebut dan menyampaikan surat terbuka kepada Presiden RI.
Dalam suratnya, Hebby menyampaikan apresiasi sekaligus keprihatinan mendalam.
“Terima kasih serta salam hormat dan takzim kami kepada Bapak Presiden Republik Indonesia atas teguran yang ditujukan kepada penyelenggara acara terkait kehadiran YM Sultan Kutai sebagai tamu kehormatan,” tulis Hebby.
Ia menilai kejadian tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan cerminan minimnya pemahaman adab dan kearifan lokal oleh penyelenggara acara.
“Ini bukan pertama kali luka masyarakat adat Kutai dipertontonkan. Sangat disayangkan, adab penyelenggara berada di bawah rata-rata, padahal mereka hidup, berusaha, makan, dan minum dari hasil bumi tanah Kutai,” tegasnya.
Hebby juga mendesak agar pihak penyelenggara segera memberikan klarifikasi terbuka dan melakukan langkah etis.
“Minimal harus ada silaturahmi langsung kepada YM Sultan Kutai untuk klarifikasi dan permohonan maaf. Jangan dibiarkan berlarut-larut karena bisa menjadi bumerang bagi penyelenggara sendiri,” ujarnya.tgl 14/1/2026
Surat terbuka tersebut ditutup dengan doa agar Presiden Prabowo senantiasa diberi kesehatan dan keteguhan dalam memimpin bangsa.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari panitia penyelenggara RDMP Pertamina terkait insiden penempatan tempat duduk tersebut.
(Parlin)
