Jakarta dettiknews.com Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026, Wisma Danantara Indonesia, di Jakarta, Jumat 13- Februari Februari-2026,
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi meningkat sebesar 8% dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, pembangunan bangsa adalah sebuah long march yang menuntut stamina, keberanian, dan sikap realistis.
Ia menegaskan negara harus mampu mengelola seluruh kekayaan dan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. “Kita harus berani melihat kenyataan, mengakui kelemahan, lalu memperbaikinya. Tugas pemerintah adalah memberi kehidupan yang layak bagi rakyatnya,” ujarnya dalam acara Indonesia. Economic Outlook 2026, Wisma Danantara Indonesia, di Jakarta, Jumat – 13- Februari -2026).
Prabowo mengklaim sejumlah indikator di daerah mulai menunjukkan perbaikan. Ia mengutip laporan beberapa kepala daerah yang menyebut konsumsi rumah tangga kembali meningkat, tingkat kemiskinan menurun, pengangguran terbuka menyusut, serta tren rasio gini yang membaik. Bahkan, pelaku usaha yang tergabung dalam asosiasi pengusaha disebut merasakan langsung dampak peningkatan daya beli sejak awal tahun.Salah satu motor penggerak yang disorot adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hingga saat ini, pemerintah mengklaim telah menjangkau 60,2 juta penerima manfaat yang terdiri dari anak-anak, ibu hamil, serta lansia yang hidup sendiri. Secara kumulatif, sebanyak 4,5 miliar porsi makanan telah diproduksi dan didistribusikan. Dari sisi skala, Prabowo menyebut program tersebut sebagai capaian manajerial dan logistik yang membanggakan.
Ia mengakui terdapat sekitar 28 ribu kasus gangguan konsumsi makanan dari total miliaran porsi yang dibagikan, namun secara statistik dinilai sangat kecil. Pemerintah, katanya, tetap menargetkan zero error melalui penguatan pengawasan dan kualitas fasilitas produksi.Saat ini terdapat lebih dari 23 ribu dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi. Pada puncaknya, jumlah dapur ditargetkan mencapai lebih dari 30 ribu unit dengan total penerima manfaat hingga 82 juta orang.
Setiap dapur mempekerjakan sekitar 50 orang dan menggandeng 5–10 pemasok lokal, mulai dari petani sayur, peternak, hingga nelayan. Pemerintah memperkirakan program ini telah menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja dan berpotensi meningkat menjadi 1,5 juta orang. Efek bergandanya, lanjut Prabowo, adalah terciptanya perputaran ekonomi di desa dan kecamatan.
“Dari lapisan paling bawah inilah ekonomi Indonesia akan bangkit menjadi dinamis,” katanya.
Tak hanya MBG, pemerintah juga mulai membangun desa nelayan sebagai bagian dari transformasi ekonomi berbasis produksi. Pada 2026 ditargetkan berdiri 1.000 desa nelayan yang dilengkapi pabrik es, cold storage, dermaga, hingga akses permodalan dan pasar. Dalam empat tahun ke depan, totalnya diproyeksikan mencapai 5.000 desa nelayan. Skema pembiayaan disebut bukan bantuan cuma-cuma, melainkan berbasis koperasi dengan pengembalian jangka panjang hingga lebih dari 10 tahun.
Langkah serupa juga diterapkan melalui pembentukan koperasi desa Merah Putih. Dalam waktu dekat, ratusan koperasi ditargetkan mulai beroperasi, sementara sekitar 30 ribu koperasi disebut hampir rampung dibentuk. Setiap koperasi akan dilengkapi gudang, fasilitas cold storage, gerai farmasi obat generik, klinik desa, hingga layanan pembiayaan ultra mikro untuk menekan praktik rentenir. Pendanaannya, menurut Prabowo, memanfaatkan alokasi dana desa yang selama satu dekade terakhir telah digelontorkan pemerintah.
Dengan integrasi distribusi barang subsidi dan akses langsung ke masyarakat, ia optimistis potensi kebocoran anggaran bisa ditekan. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan terus menghadirkan “kejutan-kejutan” positif dalam kinerja ekonomi tahun ini.“Kita ingin berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak mau lagi didikte atau dipermainkan siapa pun,” tegasnya. (Parlin)
