Jakarta, dettiknews.com Transformasi sektor pertanian Indonesia memasuki babak baru melalui percepatan digitalisasi dan penguatan regenerasi petani muda. Langkah ini menjadi fondasi strategis dalam mewujudkan pertanian modern, berdaya saing, dan berkelanjutan di tengah tantangan krisis iklim, alih fungsi lahan, serta penurunan jumlah petani produktif.
Tantangan Demografis dan Produktivitas
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dalam satu dekade terakhir jumlah rumah tangga usaha pertanian mengalami penurunan signifikan. Sensus Pertanian 2023 mencatat mayoritas petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, sementara proporsi petani muda (di bawah 40 tahun) masih relatif rendah. Fenomena ini menandakan urgensi regenerasi agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga.
Di sisi lain, produktivitas pertanian nasional masih menghadapi tantangan efisiensi distribusi,akses pembiayaan, dan adopsi teknologi.
Digitalisasi menjadi solusi strategis untuk menjawab persoalan tersebut melalui pemanfaatan:
1.Platform pemasaran berbasis digital (marketplace hasil pertanian)
2.Sistem informasi harga dan cuaca real-time
3.Precision farming berbasis sensor dan drone
4.Integrasi rantai pasok dari hulu ke hilir
Digitalisasi sebagai Instrumen Komunikasi Pembangunan
Dalam perspektif teori komunikasi pembangunan, digitalisasi pertanian tidak sekadar adopsi teknologi, tetapi proses transformasi sosial.
1.Teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers. Keberhasilan digitalisasi bergantung pada proses penyebaran inovasi dari innovators dan early adopters (petani muda, penyuluh, komunitas agritech) kepada mayoritas petani. Peran opinion leader di desa menjadi kunci dalam mempercepat adopsi teknologi.
2.Participatory Development Communication. Pendekatan partisipatif menempatkan petani sebagai subjek pembangunan, bukan objek. Program digitalisasi harus melibatkan petani muda dalam perencanaan, pelatihan, hingga evaluasi agar teknologi benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.
3.Modernization Theory dalam Konteks Adaptif. Transformasi menuju pertanian modern dilakukan tanpa menghilangkan kearifan lokal. Integrasi teknologi dengan praktik agraris tradisional akan memperkuat daya tahan sistem pangan nasional.
Regenerasi Petani Muda: Momentum Bonus Demografi
Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Generasi muda yang melek teknologi memiliki potensi besar menjadi agripreneur berbasis digital. Dengan dukungan ekosistem yang tepat—akses permodalan, inkubasi bisnis, serta pelatihan teknologi—pertanian dapat bertransformasi menjadi sektor yang Menguntungkan, Modern, dan Berdaya tarik tinggi bagi generasi Z dan milenial.
Regenerasi ini juga sejalan dengan visi pembangunan nasional dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan.
Strategi Aksi Terintegrasi, Untuk memastikan keberhasilan digitalisasi dan regenerasi petani muda, diperlukan langkah konkret :
1.Penguatan Literasi Digital Pertanian melalui pelatihan berbasis desa.
2.Kolaborasi Multipihak: pemerintah, perguruan tinggi, startup agritech, organisasi petani, dan sektor swasta.
3.Penguatan Ekosistem Supply Chain Digital dari produksi hingga distribusi.
4.Model Komunikasi Berbasis Komunitas agar inovasi menyebar secara organik dan berkelanjutan.
Digitalisasi pertanian dan regenerasi petani muda bukan sekadar program, melainkan gerakan transformasi sosial. dengan pendekatan komunikasi pembangunan yang partisipatif dan berbasis data, Indonesia dapat membangun sistem pertanian modern yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.
Momentum ini harus dijaga bersama. Masa depan pangan Indonesia ada di tangan petani muda yang adaptif terhadap teknologi dan kuat dalam jejaring kolaborasi.27/2/2026
(Apri)
