Jakarta,dettiknews.com Memasuki hari pertama di tahun 2026, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Pemerhati Lingkungan & Anti Korupsi (GEPLAK) secara resmi merilis refleksi tahunan dan pesan harapan bagi masa depan lingkungan hidup dan penegakan hukum di Indonesia.
Dengan semangat baru, lembaga ini menekankan bahwa perjuangan melawan perusakan alam tidak dapat dipisahkan dari upaya pemberantasan korupsi sistemik.
Direktur Eksekutif GEPLAK, Faresi Alfarobi, menyatakan bahwa tahun 2026 harus menjadi titik balik bagi transparansi tata kelola sumber daya alam. Ia menegaskan bahwa “polusi terbesar” di negeri ini bukan hanya limbah industri, melainkan juga praktik suap dalam perizinan lahan yang merampas hak-hak generasi mendatang.
“Tahun 2026 bukan sekadar pergantian kalender. Ini adalah momentum untuk memperketat pengawasan terhadap ‘mafia lingkungan’ dan memastikan setiap jengkal tanah serta tetes air dilindungi dari tangan-tangan korup,” ujar Faresi Alfarobi dalam keterangan tertulisnya (01/01/2026).
Visi Strategis 2026
Dalam pesannya, LSM GEPLAK menggarisbawahi tiga resolusi utama untuk tahun ini:
1.Digitalisasi Pengawasan: Mendorong penggunaan teknologi satelit dan transparansi data untuk memantau deforestasi secara real-time.
2.Advokasi Hak Masyarakat Adat: Memastikan perlindungan hukum bagi penjaga hutan di garis depan dari kriminalisasi.
3.Audit Investigatif Perizinan: Menuntut peninjauan ulang izin usaha pertambangan dan perkebunan yang terindikasi diperoleh melalui jalur gratifikasi.
Selain refleksi kebijakan, LSM GEPLAK juga mengajak masyarakat luas untuk beralih ke gaya hidup berkelanjutan dan lebih berani melaporkan indikasi praktik pungli dalam layanan publik maupun pengelolaan lingkungan di daerah masing-masing.
“Harapan kami di 2026 sederhana namun mendalam: Kita ingin melihat Indonesia di mana pohon-pohon tumbuh tinggi tanpa bayang-bayang gergaji ilegal, dan di mana pejabat negara melayani rakyat tanpa meminta imbalan di bawah meja,” tutupnya.
Selamat Tahun Baru 2026. Mari bersama-sama menjaga napas bumi dan nurani bangsa.
(Win)
