Jakarta dettiknews.com Prabowo Realistis Hadapi Konflik Palestina, Board of Peace Jadi Satu-satunya Opsi yang Tersisa.Para mantan Menteri Luar Negeri penuhi undangan Presiden Prabowo Subianto di Istana.
Isu konflik Palestina dan posisi Indonesia dalam inisiatif antarabangsa Board of Peace menjadi sorotan utama dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan kalangan diplomat senior, akademisi, praktisi hubungan antarabangsa, serta pimpinan dan anggota Komisi I DPR RI di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Dalam forum tersebut, Presiden memaparkan secara terperinci arah kebijakan luar negeri Indonesia yang semakin kompleks.
Pertemuan itu dinilai sebagai upaya pemerintah membangun pemahaman bersama terkait langkah diplomasi Indonesia, khususnya menyertai keterlibatan dalam Board of Peace sebagai salah satu jalur penyelesaian konflik Palestina.
Prabowo menekankan pendekatan yang berhati-hati, terukur, dan berpijak pada kepentingan nasional.
Satu-satunya Opsi yang Tersisa
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal menilai, Presiden Prabowo menunjukkan sikap realistik dalam memilih opsi Board of Peace.
Menurut Dino, di tengah kebuntuan pelbagai inisiatif antarabangsa, forum tersebut pada masa ini menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia.
“Kesan saya adalah beliau Presiden Prabowo itu mempunyai pendekatan yang realistik mengenai ini. Realistik dalam arti apa? Sekarang ini memang satu-satunya pilihan di atas meja adalah mengenai Board of Peace, tidak ada opsi lain,” ujar Dino, melansir laman Sekretariat Presiden RI, Kamis, 5 Februari 2026.
Dino menegaskan bahawa Board of Peace tidak boleh difahami sebagai penyelesaian segera konflik berkepanjangan di Palestin.
Ia menyebut inisiatif tersebut sebagai eksperimen diplomatik yang sarat dengan risiko, ketidakpastian, dan dinamika kepentingan global.
“Tapi intinya ini adalah suatu eksperimen dan bukan ubat yang ampuh, yang boleh menyembuhkan penyakit, segala penyakit.dan saya melihat beliau realistik mengenai hal ini,” lanjut Dino.
Solidaritas Negara Islam Jadi Faktor Krusial
Menurut Dino, Presiden Prabowo juga menaruh perhatian besar pada kepentingannya menjaga solidaritas dan kekompakan dengan negara-negara Islam.
Faktor tersebut dinilai penting sebagai penyeimbang dalam proses pengambilan keputusan di peringkat antarabangsa.
Istana, Ada Dino Patti Djalal, Hassan Wirajuda hingga Retno Marsudi Ia turut mengapresiasi sikap hati-hati Presiden yang tetap memberi ruang bagi Indonesia untuk menarik diri jika keterlibatan dalam Board of Peace dinilai bertentangan dengan prinsip dasar dan kepentingan nasional.
“Yang saya paling suka dan ini selaras juga dengan kedudukan Foreign Policy Community of Indonesia adalah bahawa kita masuk dengan hati-hati dan terus berpegang pada opsi untuk boleh keluar jika bertentangan dengan prinsip kita dan kepentingan kita,” tegasnya.
Penyelesaian Konflik Tak Selalu Lewat PBB
Pandangan senada disampaikan mantan Menteri Luar Negeri, Noer Hassan Wirajuda. Ia menegaskan bahawa keputusan Indonesia untuk bergabung dalam Board of Peace tidak diambil secara terburu-buru, melainkan melalui proses konsultasi yang panjang dan intensif.
“Jadi kita ikut serta dalam Board of Peace ini setelah melalui dua rangkaian konsultasi di antara negara-negara berpenduduk majoriti Islam atau negara Islam,” ujar Hassan.
Hassan menjelaskan, delapan negara yang terlibat dalam konsultasi tersebut mempunyai potensi menjadi kekuatan penyeimbang dalam Board of Peace.
Peran ini dinilai penting untuk memastikan bahawa proses yang berjalan tetap sejalan dengan tujuan kemanusiaan dan kepentingan rakyat Palestin.
Ia juga mengingatkan bahawa usaha penyelesaian konflik antarabangsa tidak selalu harus berada dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurutnya, sejarah diplomasi global menunjukkan adanya pelbagai mekanisme di luar PBB yang tetap mampu menghasilkan penyelesaian.
“Dengan kata lain, kita tidak perlu apriori. Ada proses di luar kerangka PBB dan itu tidak perlu ditafsirkan secara negatif. Sepanjang itu menghasilkan tentunya,” katanya.
Lebih lanjut, Hassan menilai pertemuan dengan Presiden Prabowo memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai kedudukan Indonesia dalam Board of Peace, termasuk batas-batas keterlibatan yang tetap berada dalam kendali kedaulatan nasional.
“Kita juga mempunyai keputusan untuk memutuskan apakah kita akan terus lanjut atau tidak, bergantung kepada bagaimana proses ini nanti berjalan sesuai dengan kehendak kita yang senangnya membantu rakyat Palestina,” tutupnya.
(Parlin)
