Jakarta.- dettiknews.com Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan para kepala daerah di seluruh Indonesia untuk turut memberikan perhatian serius terhadap pelestarian tapak-situs sejarah. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Dalam taklimatnya, Prabowo terlebih dahulu mengingatkan pentingnya memahami sejarah sebagai fondasi kepimpinan dan kebangsaan.
“Mereka yang melupakan sejarah akan dihukum oleh sejarah. Mereka yang melupakan sejarah akan terbelit dalam kesalahan-kesalahan yang berlaku di masa lalu,” ujar Prabowo, Senin. 2 , Februari.2026.
Prabowo kemudiannya merasakan pengalamannya melihat langsung jejak diskriminasi dan kurangnya penghormatan terhadap sejarah, bahkan bertahun-tahun setelah Indonesia merdeka.
“Saya masih melihat prasasti. Saya lihat satu prasasti tahun 1978, saya ulangi, tahun 1978, 28 tahun selepas kemerdekaan, masih ada prasasti di kolam renang Manggarai waktu itu. Sayang, mungkin sudah dibongkar,” ungkapnya.
Menurut Prabowo, pengalaman tersebut menunjukkan bahawa penghormatan terhadap sejarah belum sepenuhnya menjadi kesedaran bersama, termasuk dalam menjaga peninggalan bersejarah. “Kadang-kadang kita tidak menghormati sejarah kita. Situs-situs bersejarah dibongkar. Ini kerana kepala daerah harus memikirkan,” tegasnya.
Presiden juga menyampaikan contoh konkret sejumlah situs bersejarah yang menurutnya perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Saya mau tanya, di mana stesen RRI yang digunakan oleh Bung Tomo waktu pertempuran 10 November? Adakah masih ada? Di mana tapak-situs Majapahit? Saya dengar ada beberapa yang sudah jadi kilang,” katanya.
Kepala negara menegaskan, keberadaan bangsa Indonesia saat ini merupakan hasil perjuangan panjang dan pengorbanan besar para pendahulu. Oleh kerana itu, pelestarian tapak sejarah tidak boleh dimaklumkan oleh kepentingan pembangunan jangka pendek.
Instruksi tersebut memberikan penekanan agar kepala daerah memastikan kebijakan pembangunan di setiap masing-masing harus tetap berjalan dengan menjaga warisan sejarah dan identitas bangsa.
(Parlin)
