Jakarta, dettiknews.com PAM JAYA terus mempercepat transformasi digital dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan air bersih bagi masyarakat Ibu Kota. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Arief Nasrudin, perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut mulai mengembangkan berbagai inovasi berbasis teknologi, mulai dari layanan pelanggan berbasis Artificial Intelligence (AI), aplikasi digital, hingga konsep Water Hub.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya PAM JAYA mengejar target cakupan pelayanan air perpipaan 100 persen di Jakarta pada 2029.
Transformasi tersebut menandai perubahan pola pelayanan PAM JAYA. Jika sebelumnya pelanggan harus mendatangi kantor pelayanan untuk mengurus sambungan baru, pembayaran, maupun pengaduan, kini berbagai kebutuhan ditargetkan dapat diakses melalui perangkat telepon pintar.
Tiga Inovasi Digital PAM JAYA
Berdasarkan materi informasi yang disampaikan, terdapat tiga pengembangan utama yang menjadi perhatian PAM JAYA pada 2026.
Pertama, pengembangan AI Call Center dan Command Center untuk mempercepat penanganan pengaduan pelanggan. Teknologi ini diklaim mampu membantu mengidentifikasi berbagai persoalan, seperti kebocoran pipa, gangguan aliran, kualitas air, hingga permasalahan meter pelanggan.
Kedua, integrasi pelayanan melalui sistem C2M (Customer to Meter) dan ERP Fusion. Melalui digitalisasi tersebut, pelanggan diharapkan semakin mudah mengakses informasi tagihan, pemakaian air, pembayaran, serta menyampaikan pengaduan secara daring.
Ketiga, pengembangan inovasi Water Hub dan Water Purifier sebagai bagian dari upaya memperluas akses serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemanfaatan air perpipaan.
Namun, efektivitas teknologi tersebut tetap perlu dibuktikan melalui kualitas air yang memenuhi standar kesehatan, keandalan sistem, serta kemudahan akses bagi seluruh lapisan masyarakat.
Arief Nasrudin: Pelayanan Harus Semudah Pesan Ojek Online
Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menegaskan bahwa transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadi strategi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.
Visinya adalah menghadirkan pelayanan yang cepat, mudah, transparan, dan dapat diakses masyarakat tanpa harus melalui proses birokrasi yang berbelit.
Teknologi AI Call Center, aplikasi C2M, serta pembangunan Sentra Pelayanan di kawasan Pejompongan diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pelayanan air minum yang lebih modern.
Target 100 Persen pada 2029, Tantangan Masih Besar
Di balik berbagai inovasi tersebut, target cakupan pelayanan air perpipaan 100 persen pada 2029 menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan konsistensi pembangunan infrastruktur.
PAM JAYA juga mendorong masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Kebijakan tersebut berkaitan dengan upaya pengendalian penurunan muka tanah yang menjadi salah satu persoalan serius di Jakarta.
Terkait kebijakan Minimum Consumption 10 meter kubik yang disebut mulai diberlakukan pada pemakaian November 2026, mekanisme penerapan, kelompok pelanggan yang terdampak, serta perhitungan tarif perlu disosialisasikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Masyarakat Bukan Hanya Membutuhkan Aplikasi, tetapi Air yang Mengalir
Transformasi digital PAM JAYA tentu patut diapresiasi apabila benar-benar memberikan kemudahan bagi masyarakat. Namun, keberhasilan perusahaan daerah tidak cukup diukur dari banyaknya aplikasi, pembangunan gedung modern, maupun kecanggihan teknologi.
Ukuran paling penting adalah apakah air mengalir secara berkelanjutan, kualitasnya memenuhi standar kesehatan, tarifnya terjangkau, dan pengaduan masyarakat ditangani secara cepat.
Dengan demikian, target Jakarta 100 persen terlayani pada 2029 bukan hanya menjadi janji korporasi, melainkan tanggung jawab pelayanan publik yang harus dapat dirasakan seluruh warga.
(Sarwini)